BPK YAYANG FAREL BERSAMA PERAWAT MITRO DI DEPAN KANDANG INDUKAN

Setelah orang ramai membicarakan para juara, terutama kelas paling prestis yaitu kelas Utama Senior yang digelar hari Minggu (11/4), obrolan pun akan berlanjut soal siapa dia, dan dari mana asal-usulnya.

Sesungguhnya, kemenangan Jack Miller di kelas Utama Senior tidaklah terlalu mengejutkan, setidaknya bila hal itu berkaca pada optimisme para punggawa Team Farel yang menaungi Jack Miller, serta melihat jejak rekam sebelumnya. Bahwa ada kesan seperti kejutan, lebih karena sesama peserta memang relatif buta dengan kekuatan lawan. Harap maklum, setahun lebih tidak digelar adu balap setingkat nasional.

Jack Miller sudah memulai debutnya pada akhir tahun, atau bulan Desember 2020, atau sekitar 5 bulan yang lalu di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Untuk mengisi kekosongan jadwal, memang ada program lomba lokal / regional bagi daerah yang memungkinkan, ada pula kelas junior semacam Selekda tetapi para juaranya tidak diberikan tiket mengikuti lomba Junior Nasional. Waktu itu memang belum muncul jadwal lomba Nasional.

“Jack Miller tidak sempat mengikuti lomba kelas Junior, karena memang sejak Maret sampai November tahun 2020 lalu belum ada lomba. Jadi saat ikut lomba di Ambarawa pada bulan Desember, langsung ikut kelas Senior,” jelas Pak Andri, atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Pak Carik, sang joki Team Farel.

Sebagai burung yang tampil perdana, sudah barang tentu tidak ada yang menjagokan Jack Miller di Ambarawa waktu itu. Beberapa pembalap lain pun sesungguhnya juga menjalani lomba debut.

Saat itulah Jack Miller langsung unjuk gigi. Setelah unggul dari babak awal hingga babak semifinal, akhirnya Jack Miller meraih runner up di babak grand final. “Dari kecepatan terbang, powernya yang tidak mengenal lelah dan tidak mengenal rasa takut apa pun tipe lawan, juga kematangan menjelang finis, mulai terlihat dan terpantau dengan terang benderang,” kali ini dijelaskan oleh om Kebo, sang perawat.

OM KEBO DAN FREDY DI DEPAN KANDANG PLAYER, JALAN KALIURANG JOGJA

Meski Pak Carik dan kru juga buta dengan kekuatan lawan yang akan bertarung di kelas Utama Senior di gelaran Nasional PPMBSI dalam rangka HUT ke-75 TNI AU di lapang Lanud Raci, Pasuruan, namun rasa optimis itu terus dipelihara.

“Sejak meraih runner up di Ambarawa, kami terus melatih dan mempersiapkan Jack Miller dengan sangat baik. Selama sekitar 5 bulan, otot-otot terus tumbuh semakin kuat, demikian pula dengan mental, semakin matang. Asal bisa tampil konsisten, kami optimis mampu bersaing di level nasional,” imbuh Pak Carik.

Sementara itu, Fredy, kru Team Farel lain menambahkan, bila Jack Miller memang sangat kuat dalam bertarung, seakan tak mengenal lelah dan tidak punya rasa takut. “Kalau ketemu lawan nakal juga tidak takut, tidak mundur atau menghindar, akan terus berusaha mengimbangi, barulah kira-kira 100-50 meter menjelang finish, akan berusaha lepas dan melesat lebih dulu ke patek. Di Pasuruan pun sempat ketemu burung yang mencoba mukul terus, nyatanya Jack mampu menghadapinya.”

Begitulah, babak demi babak diikuti oleh Jack Miler dengan beragam tipe lawan. Total peserta kelas Utama Senior adalah 770 ekor. Jack Miller perlu terbang sebanyak 13 kali, dengan dua kali di antaranya sempat diprotes, serta sekali draw.

“Dua kali diprotes dari lawan, dewan juri tetap pada keputusannya mendukung keputusan Let atau Juri dengan tetap meneguhkan kemanangan Jack. Sekali draw, karena belum masuk babak semifinal atau 4 besar, tidak ada terbang ulang, keduanya termasuk Jack masuk ke babak berikutnya,” imbuh Kebo.

BACA: Dua Kali Diprotes dan Sekali Draw, Jack Miller Akhirnya Juara Kelas Utama Senior

Jack Miller sendiri adalah tipe pembalap yang berusaha terus mengimbangi atau ngedek, tidak berusaha terbang sendirian meninggalkan lawan. “Pada jarak 100-50 meter menjelang finis, baru berusaha sprint agar bisa sampai ke tangan joki di patek lebih dulu. Itulah yang terus dilakukan sepanjang laga pada11 April yang lalu,” tandas Pak Carik lagi.

Di titik pelepasan juga tidak ada strategi khusus. Normal saja. “Bila kebetulan lawan memilih melepas belakangan, Jack akan menunggu sampai bisa terbang bersandingan. Kalau lawan berusaha star lebih awal, Jack juga akan mengejar sampai bisa gandeng lagi. Misal ketemu lawan yang suka mukul juga tidak akan membuatnya mundur,” tegas Kebo lagi.

Lalu siapa Jack Miller dan dari mana asal usulnya? “Kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi kami Team Farel, karena Jack Miller itu pembalap yang lahir di kandang sendiri. Jack kebetulan lahir di kandang Team Farel yang di Jogja,” jelas Pak Carik.

AWALNYA DIKIRA BETINA

Mungkin Anda kurang percaya dengan cerita ini, bila ketika masih piyik, si belia Jack Miller dikira betina, bahkan sempat dipakai buat geberan. “Dulu memang dikira betina, tubuh kecil, leher juga. Pokoknya secara tongkrongan jauh dari kata menarik. Sempat saya pakai buat geberan, bahkan nyaris kita kasihkan ke orang,” terang Bandrio, punggawa Team Farel yang lain.

Tanda-tanda Jack Miller jantan baru diketahui saat Pak Yayang Farel, pemilik Team Farel, datang dari Jakarta. “Saat itu Pak Yayang datang, terus pengin tahu dan megang. Dari pegangan tangannya, beliau bilang itu jantan dan bagus. Burung satu kandang disebutnya tidak akan ada yang bisa mengalahkan,” imbuh Bandrio.

Jack lantas dicabut bulu-bulunya, ulet atau kuat tidak mudah lepas. Setelah bulu baru tumbuh, dikasih 3 betina, kemudian memilih sendiri salah satunya buat jodoh. Saat dilatih, mulai terlihat bibit-bebet-bobotnya. “Bulu-bulunya kuat, pas terbang langkahnya juga lebar-lebar, membuat terbang jadi lebih cepat.”

Jack Miller adalah anak dari Reno Muda (bapak, ring Farel), ibunya adalah anak Jetset (ring Farel). Ada pun kakeknya adalah Reno (ring Farel) yang dikres dengan Ibu Terbit. (Terbit, ring Rangkas Klaten, adalah pembalap juara saat dimiliki H. Aziz dari Sunrise SMU Pasuruan).

Buyutnya, bapak dari Reno, adalah Monster Kecil (Ring Kintakun) yang dikres betina trah Orong-Orong dan trah Ancaman.

“Ancaman adalah burung juara lama, saya beli dari Wardi. Ancaman saya kres dengan betina darahan dari Senfri, saya tidak begitu paham trah awalnya, tapi bulu burung ada tlampiknya. Keluarlah betina kelabu selap yang saya jodohkan dengan Orong-Orong, hingga keluar ibu Reno yang warnanya megan tlampik.”

Pak Yayang kemudian membeli anak Monster, juga dari Wardi. “Saya dapat burung ini lewat Pepep Bandung, joki saya dulu. Sempat dilatih kemudian stop karena celeng, kemudian saya ternak. Burung ini saya namakan Monster Kecil. Monster Kecil dikres dengan betina anak dari Orong-Orong dan cucu dari Ancaman, hingga keluar Reno dan beberapa adiknya,” jelas Pak Yayang.

Agar lebih jelas, silakan simak bagan silsilah di bawah ini:

SILSILAH JACK MILLER

Adik Jack Miller kandung (satu ayah dan ibu) ada beberapa. “Jantan ada 5 ekor, yang 4 ekor dilatih di Jogja, satu ekor dilatih di Semarang. Betina ada 4 ekor, semua dibawa ke Jakarta,” jelas Kebo.

Menurut Kebo, ada rencana ibu Jack Miller akan dikres langsung dengan Reno.

MATERI KANDANG TEAM FAREL

Sejumlah materi handal dimiliki oleh Team Farel, terutama di kandang ternak Jakarta. Beberapa di antaranya yang anakannya dikenal bagus antara lain:

  1. Dewa Kembar (DK Tritis) x adik Jack Miller
  2. Mata Dewa (kelabu) x Anak Reno Kelabu
  3. Virgin (keponakan Reno) x anak Keris ring Fair (hitam tlampik)
  4. Monster Junior (MJ adik Reno) x Anak Mata Dewa
  5. Reno x trah Leonard (kelabu)
  6. Milenimum x anak Orong-Orong (tritis)
  7. Orong-Orong x adik Jack Miller
KANDANG INDUKAN TEAM FAREL JKT

SIAPA TEAM FAREL?

Team Farel dimiliki oleh Bapak Yayang Farel. Beliau sudah menyukai burung merpati balap sejak masih kuliah di Yogyakarta, sekira tahun 80an akhir. “Sejak kuliah di Yogyakarta saya sudah suka burung balap. Itu Bandrio, sejak masih kecil, masih kelas 4 SD sudah ikut saya jadi perawat dan pelepasnya,” jelas Yayang.

Tahun 1991, Pak Yayang lulus kuliah, kemudian kerja di Jakarta. Main burung tetap, beberapa burung tetap di Jogja. Tahun 98-99 burung mulai dilatih dan diternak ke Semarang. “Saya kan asli Semarang, dan orang tua juga masih tinggal di Semarang.”

Beberapa pembalap milik Pak Yayang yang sudah meraih juara di zaman itu, di antaranya Sinyo, Dakocan, Topeng. Sekitar tahun 2000an, beberapa burung dibawa ke Jakarta. Beberapa burung player tetap dilatih di Semarang, sebagian diternak dan latihan di Jakarta.

Sekitar 2010 Bandrio datang ke Jakarta bersama Muhsin. “Sejak itu saya mulai menyerahkan sebagian burung untuk dilatih di Jogja.”

Salah satu pembalap hasil kandang Team Farel di Jakarta adalah Reno, yang kemudian menurunkan Reno Muda lantas keluar Jack Miller (lihat lagi bagan di atas).

Menurut Bandrio, Reno Muda itu burung yang terbangnya kenceng, selalu ninggalin lawan. “Hanya saja, burung ini agak sulit nempel mulus ke Joki.”

Mendengar cerita bila Reno Muda yang terbangnya kenceng, Pak Yayang pengin melihatnya, sehingga meminta supaya diturunkan di Lomba Nasional Bandung di Lanud Sulaiman. “Sebenarnya bulu masih njawat. Tapi Pak Yayang pengin supaya tetap diikutkan, lebih karena penasaran pengin lihat terbangnya.”

Waktu itu, titik pelepasan dibalik dari biasanya. Saat dilepas, arah terbang Reno Muda melenceng, dari arah patek tertutup pepohonan besar. Burung tampak terbang ke arah mes. Hilang, dan baru ketemu lagi sebulan kemudian.

Setelah hilang dan ketemu lagi, Reno Muda sepertinya rusak. Dicoba beragam treatmen dan berulang kali latihan, sulit sekali pulih lagi. “Lalu diputuskan untuk diternak di Jogja,” imbuh Bandrio.

Saat Pak Yayang mulai menyukai merpati balap di Yogyakarta, tentu saja belum memakai nama Team Farel. Nama Farel sendiri diambil dari nama anak Pak Yayang.

Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang Team Farel berikut materi kandangnya, silakan bisa menghubungi Bapak Yayang di 0817.910.6060.

VIDIO KANDANG TEAM FAREL, MATERI, & SILSILAH JACK MILLER:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini