H. ECEP. INUYASA PEMENANG KELAS JUNIOR

Babak Final Kejuaraan Junior Mega Lomba Anniversary PPMBSI Ke-20 antara Inuyasa (H. Ecep Bandung) dan Chelsea (H. Kilmi Gresik) benar-benar berlangsung dramatis. Sempat tertinggal, Inuyasa akhirnya dinobatkan sebagai pemenang setelah finish ke tangan joki dengan sempurna.

Kejurnas Junior dalam Mega Lomba Mempertemukan 64 merpati balap terbaik tanah air yang didapat melalui Selekda serentak di 12 kota, dua pekan sebelumnya. Laga yang berlangsung di hari pertama, Jumat 22 Oktober 2021 ini berlangsung seru dan menarik. Total hadiah yang diperebutkan saja begitu fantastis, 220 juta rupiah, belum lagi ini juga merupakan adu prestis. Siapa tak pengin menang.

Babak demi babak dilewati hingga sampailah di babak perempat final yang menyisakan tujuh pembalap antara lain: Ulat Sutra, New Blatik, Chelsea, Bintang Kecil, Seruling, Goyang Reno, dan Inuyasa. Di babak sebelumnya, Bhirawa dan Wong Elit terkena diskualifikasi karena tidak terbang.

H. ECEP DAN KRU

Keberuntungan rupanya berpihak kepada Inuyasa, pembalap andalan H. Ecep Bandung yang mendapat bye di babak perempat final. Sementara keenam pembalap lainnya harus berjibaku untuk memperoleh tempat di babak yang sama.

Masuknya Chelsea (H. Kilmi Gresik), Ulat Sutra (Fair Semarang), Goyang Reno (H. Ismail Pamekasan) dan Inuyasa (H. Ecep Bandung) menjadi bukti seimbang dan meratanya kekuatan di kelas junior. Unggul dari Ulat Sutra, merpati balap Chelsea andalan H. Kilmi Gresik berhasil masuk ke babak final dan diunggulkan akan menjadi pemenang.

Mendapatkan bye di babak perempat final ternyata menjadi keuntungan tersendiri untuk Inuyasa yang akhirnya melangkah ke babak final setelah mengungguli Ulat Sutra. Selain memang diunggulkan karena telah memenangi Selekda Bandung, merpati dengan kode ring 021514 ini juga mempunyai tenaga lebih bugar.

MB INUYASA

Duel antara Chelsea dan Inuyasa di babak final menjadi laga yang paling di tunggu-tunggu di kelas junior. Rivalitas Jawa Barat dan Jawa Timur yang dikenal sebagai pencetak merpati balap-merpati balap berkualitas tentu menjadi bumbu tersendiri di duel kali ini.

Langsung melesat jauh di depan meninggalkan lawannya, Chelsea digadang-gadang akan keluar sebagai pemenang. Unggul kurang lebih 10 meter, Hamid dan kawan-kawan terlihat yakin akan menang mudah. Entahlah, apa karena joki terlalu semangat dan antusias, finishing Chelsea pun menjadi kurang mulus dan mental.

Meski masuk belakangan, Inuyasa akhirnya keluar sebagai pemenang pertama setelah mendarat secara sempurna, sementara Chelsea belum sampai ke tangan joki. Awalnya sempat terdiam karena Inuyasa masuk belakangan, H. Ecep dan kru langsung bersorak-sorai begitu juri menunjuk patek putih sebagai pemenang. Mereka tak menyangka Inuyasa bisa menjadi pemenang kejurnas junior dengan cara sedramatis itu.

H. KILMI GRESIK. MB CHELSEA RUNNER UP KEJURNAS JUNIOR

Dihubungi ppmbsi.com, H. Ecep mengungkapkan bila Inuyasa merupakan ternakan dari Dokar Bandung. “Inuyasa ini ternakan Om Dokar, masih bulu satu, baru delapan buangan, sisa satu lar-nya. Pertama kali turun di Selekda Karawang. Terus untuk even Anniversary ini kita lolos dari Selekda Bandung. Pas lomba di Sodetan, Banjaran,” ungkapnya.

Kemenangan Inuyasa di Kejurnas Junior ini menjadi bukti kalau Bandung masih menjadi barometer merpati balap berkualitas di tahan air. “Kesan-kesan untuk even Anniversary PPMBSI kali ini alhamdulillah ramai dan lancar. Untuk ke depannya mudah-mudahan bisa lebih bagus dari hari ini, lebih sukses. Ini juga pembuktian kalau burung-burung Bandung masih bisa bersaing di lomba nasional,” lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sutris Gresik yang mengakui apabila lomba Anniversary PPMBSI ke-20 kali ini benar-benar istimewa. “Lomba Anniversary hari ini benar-benar istimewa, dari sekian tahun, baru tahun sekarang yang benar-benar istimewa,” ungkapnya.

FAIR TEAM SEMARANG. MB ULAT SUTERA TEMBUS POSISI TIGA BESAR

Bicara tentang kekalahan Chelsea di babak final kejurnas Junior, Sutris mengaku hal tersebut dinamakan kalah rejeki. “Saat itu saking bangganya, soalnya ini lomba yang ditunggu-tunggu setahun sekali. Jokinya terlalu nervous, terlalu bahagia, uang seratus juta dibuang. Terlalu semangat. Mau bagaimana lagi wong namanya kalah rejeki, kalah hoki, hal seperti ini memang kerap terjadi di balap merpati,” ungkapnya.

Chelsea sendiri merupakan pembalap baru H. Kilmi yang didapatkan ketika Selekda Malang. “Chelsea ini asalnya dari Malang, beli kemarin waktu lomba Selekda dari Tim GSP. Setelah juara satu Selekda Malang, langsung dibawa ke sini. Kalau burungnya memang ninggal-ninggal, nggak pernah tempel. Waktu di sana (Malang-red) juga gitu. Paling dekat itu 5 meterlah ninggalnya,” lanjutnya.

Tipikal Chelsea yang selalu meninggalkan lawan juga terlihat jelas ketika turun di Kejurnas Junior kali ini. “Mulai babak pertama sampai final nggak ada burung tempel. Tapi akhirnya mau bagaimana lagi, wong memang kalah rejeki. Kalau dibayangin dan dipikirkan terus ya nggak bisa tidur,” ungkapnya sedikit kecewa.

H. ISMAIL PAMEKASAN. MESKI PENDATANG BARU, BINTANG RENO PERINGKAT EMPAT KEJURNAS

Kejurnas Junior Mega Lomba Anniversary kali ini juga menjadi ajang pembuktian bagi tim-tim pendatang baru untuk bersaing di kancah nasional, salah satunya adalah H. Ismail Pamekasan. Menurunkan merpati balap Goyang Reno, tim yang dijoki oleh Toyo ini berhasil menembus posisi empat besar.

“Goyang Reno pas Selekda di Sumenep dapat juara 1, terus ini tadi juara empat di Kejurnas. Burung memakai Ring 2021, anakan dari Abah Fandi Gembel Elite. Ayahnya Ratu Goyang, ibunya Singo Barong. Mulai kelihatan bakat waktu tebean cuma seri-serian tok, habis itu enam keluaran, kuangkat ke A, alhamdulillah langsung juara Selekda Sumenep,” ungkap Toyo.

Ia juga mengaku bangga dapat berpartisipasi di Mega Lomba Anniversary PPMBSI kali ini. “Alhamdulillah memuaskan. Ramai, peserta seribu lebih. Hadiah juga lebih besar. Semoga ke depannya PPMBSI tambah sukses, tambah lancar, nggak ada PPKM lagi,” lanjutnya.

LINDU AJI SEMARANG. MB SERULING MASUK LIMA BESAR

Rasa senang dan bangga juga diungkapkan oleh Dewi, satu-satunya joki perempuan asal Balikpapan yang ambil bagian di even Anniversary. “Meskipun kalah tetap senang karena ramai sekali, seru pokoknya seru. Kalau di sana (Kalimantan-red) belum bisa seperti di sini, tapi terus berkembang. Peserta kalau jagungan paling 70-80 burung saja. Kalau di Balikpapan ada satu, kalau di Kaltim ada lima kota, jadi kita ada liga. Tiap bulan itu kita muter ke Samarinda, Tenggarong, tergantung putaran liganya. Cuma karena pandemi, sementara stop ini,” ungkapnya.

Meski mengaku telah tertarik pada merpati balap sejak tahun 2003, Dewi mengaku baru bisa merasakan atmosfir lomba nasional di tahun ini. “Dengan inspirasi di sini, semoga ke depan kita di Kalimantan dapat membuat lomba yang ramai, murah, dan meriah seperti Mega Lomba Anniversary kali ini,” lanjutnya.

SBR TEAM, JEMBER-MEDAN, BINTANG KECIL KE-6 JUNIOR, BANG JAGO KE-3 UTAMA SENIOR

Raut gembira dan cerita juga tampak dari Asen Helm dan Iwan SBR dari Jember. Di kelas Junior, mereka membeli Bintang Kecil di babak awal, ternyata bisa masuk ranking 6. Team asal Jember ini ternyata memang kerap membeli jago di babak-babak awal, hingga akhirnya masuk papan atas.

DATA JUARA MEGA LOMBA ANNIVERSARY KE-20 PPMBSI

PERANG BINTANG DAN GALATAMA 1000 METER JUMAT
GALATAMA 1000 METER MINGGU
KELAS JUNIOR
KELAS UTAMA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini